Tampilkan postingan dengan label CANON. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CANON. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Januari 2010

EOS 1000D DSLR

Entah kenapa, sekarang ini kamera DSLR sudah menjamur di semua kalangan masyarakat. Temenku aja udah banyak yang punya barang mewah ini, bahkan udah ada komunitasnya sendiri. Mungkin disebabkan banyaknya kelebihan yang dimiliki oleh kamera DSLR ini dibanding dengan kamera pocket biasa. Disini saya akan mencoba melihat seberapa ‘hebat’ kekuatan yang dimiliki oleh sebuah kamera DSLR keluaran Canon, dengan tipe 1000D.

eos-1000d-insideKamera digital Canon EOS 1000D adalah nama yang digunakan pada pemasaran di wilayah Eropa, sedangkan pada wilayah Jepang dikenal sebagai Digital Rebel XS atau Canon EOS Kiss Digital F. Adalah kamera profesional entry level meneruskan pendahulunya Canon EOS 450D, dengan beberapa upgrade pada fasilitasnya, salahsatunya adalah menggunakan image processor DIGIC III yang memberikan kesempurnaan gambar serta kecepatan focus dan opeasional yang lebih baik jika dibandingkan processor sebelumnya. Kamera ini juga dilengkapi dengan live view pada LCD sehingga kita dapat melihat object yang akan di shoot melalui layar LCD. Salah satu kelebihan dari live view ini adalah kita bisa mendapatkan 100% object tanpa ada yang terlewatkan, dibanding jika kita melihat object melalui optical viewfinder, yang biasanya hasil fotonya akan menjadi sedikit lebih besar dibanding apa yang dilihat dari optical viewfinder. Yang harus diperhatikan bahwa live view pada kamera Canon EOS 1000D ini tidak bisa digunakan pada mode shooting tertentu.

Pada saat pembelian kamera Canon EOS 1000D ini, akan disertakan lensa kit dengan ukuran 18-55 IS EF-S F3.5-5.6. Salah satu kelebihan dari lensa kit ini adalah kemampuan image stabilizer yang membuat kita dapat menurutkan kecepatan shutterspeed untuk mendapatkan hasil yang lebih sesuai, tanpa takut gambar menjadi kabur akibat getaran tanggan pada saat kita menekan tombol shutter. Kamera ini menggunakan mount lensa yang cocok untuk lensa EF dan EF-S, sehingga kita dapat lebih flexible dalam memilih lensa apa yang akan digunakan dengan kamera ini.
Jenis memory yang digunakan pada kamera Canon EOS 1000D adalah SD (secure digital) memory card dan juga bisa digunakan pada memory jenis SDHC untuk kapasitas yang lebih besar. Karena saat ini harga memory semakin murah, dan juga kemampuan menyimpan kamera ini yang semakin besar, maka disarankan untuk menggunakan memory card dengan ukuran yang besar atau setidaknya diatas 1G.
Sama seperti kamera digital jenis EOS lainnya, kamera ini dilengkapi dengan system pembersih sensor yang dapat membantu membersihkan debu dari sensor sehingga hasil foto kita tidak terganggu akibat kotoran debu tersebut. Cara Kamera Canon EOS 1000D ini membersihkan sensor adalah dengan getaran gelombang ultrasonic dan kemudian menggunakan low pass filter yang memiliki lapisan anti-static yang dapat melindungi dari debu.
canon-eos-1000dKamera Canon EOS 1000D dilengkapi dengan pop-up flash, yang secara elektronis akan terbuka jika diperlukan. Flash guide number untuk flash internal ini adalah 13 meter pada ISO 100. Pada ukuran ini flashnya cukup kuat jika dibandingkan kamera digital sejenisnya. Flash ini juga berfungsi sebagai lampu AF assist, untuk membantu kamera menemukan focus jika kita akan memotret object pada kondisi cahaya yang kurang.
Canon EOS 1000D juga didesign untuk dapat digunakan pada batery grip jenis BG-E5 (optional, tidak disertakan didalam dos pembelian kamera) agar dapat ditambahkan battery dengan jenis double lithium ataupun dengan jenis battery AA yang bisa didapatkan dengan mudah disupermarket terdekat jika kita kehabisan battery. Performa battery bawaan kamera Canon EOS 1000D (battery jenis LP-E5) ini cukup baik yang disebutkan dapat digunakan untuk kuranglebih 500 kali shoot pada kondisi normal, namun hal ini sangat berpengaruh seberapa sering kita menggunakan LCD untuk review ataupun preview, juga seberapa banyak kita menggunakan internal flash akan mempengaruhi kekuatan battery.
Spesifikasi :
- Resolusi 10.1 megapixel
- Sensor CMOS
- Resolusi maksimal 3888 x 2592
- Digic III Image Processor
- Jenis file RAW dan JPEG file formats
- Shutter speeds 1/4000 sampai 30 seconds
- LCD 2.5 inc dengan resolusi 230,000 pixels
- Support Live View dari LCD
- ISO range: auto, 100 sampai 1600
- Hotshoe
- Jenis memory: SD / SDHC
- Video output NTSC / PAL format
- Remote control E3
- USB 2.0 hi-speed data and control interface
- Battery Lithium-Ion LP-E5
- Ukuran 5.1 x 3.9 x 2.4 in
- Berat 502 g (dengan battery)

Sabtu, 05 Desember 2009

8 Recommended Prosumer Camera

Kamera digital prosumer identik dengan kamera serius yang punya bodi mirip kamera DSLR dan berlensa panjang namun tidak bisa dilepas-pasang layaknya lensa pada kamera DSLR. Awalnya kamera prosumer hadir di masa lalu ketika harga DSLR masih sangat tinggi, padahal banyak fotografer yang ingin berlatih fotografi secara serius namun tak cukup dana untuk membeli DSLR. Oleh karenanya, saat itu kamera prosumer laris manis meskipun kalau diadu dengan DSLR dalam hal kualitas foto dan kinerja secara umum, memang harus mengaku kalah. Kini, eksistensi kamera prosumer masih terus bertahan meski harus berjuang keras ditengah himpitan serbuan kamera DSLR baru nan murah dan canggih. Salah satu cara prosumer untuk tetap eksis di tahun sekarang adalah dengan membuat lensa sepanjang mungkin supaya menarik minat para pembeli. Kamera prosumer dengan lensa zoom optik diatas 20x pun kini sudah jadi suatu hal yang umum dijumpai.

Mengapa kamera prosumer?

Perkembangan teknologi fotografi digital masa kini telah mengantar kamera prosumer menjadi kamera praktis yang bisa diandalkan untuk fotografi sehari-hari, mulai dari memotret makro, landscape, hingga foto tele di alam terbuka. Bahkan kemampuan prosumer dalam merekam video pun semakin ditingkatkan, dengan kemampuan merekam High Definition serta memakai kompresi MPEG-4 AVC yang efisien. Banyak prosumer masa kini yang telah dilengkapi dengan dudukan flash eksternal, sehingga keterbatasan prosumer di daerah kurang cahaya dapat disiasati dengan memasang lampu kilat eksternal yang berdaya lebih besar, dan bisa dibouncing keatas bawah atau kiri kanan. Soal kenyataan lensa prosumer yang tetap/fix, bila disikapi dengan bijak bisa menghindarkan kita dari keinginan membeli banyak lensa, mencegah gonta-ganti lensa yang tidak praktis dan beresiko masuknya debu ke dalam sensor. Soal kendala noise dapat diupayakan dengan sedikit kerja ekstra yaitu memotret memakai file RAW dan selanjutnya diolah di komputer. Belum lagi soal harga dan bobot prosumer yang lebih ringan dari DSLR, membuat prosumer masih punya harapan untuk mendapat tempat di kalangan fotografer, baik pemula hingga profesional sekalipun.

Apa kekurangan kamera prosumer?

Kompromi seperti apa yang harus diterima oleh seseorang yang membeli kamera prosumer? Kamera jenis ini punya harga cukup mahal, namun masih lebih murah daripada kamera DSLR. Jadi janganlah berharap kalau kamera prosumer akan punya kinerja layaknya DSLR. Jadi kompromi yang harus diterima setidaknya ada empat hal :
  • Pertama adalah menghindari pemakaian ISO tinggi, artinya bermain aman saja di ISO dasar hingga maksimal ISO 400.
  • Kedua adalah tidak berharap banyak akan fotografi dengan DOF sempit, seperti foto portrait atau still life.
  • Ketiga adalah menghindari fotografi yang memerlukan kerja kamera yang serba cepat, termasuk shutter, auto fokus hingga continuous shooting yang cepat.
  • Keempat pemakai prosumer tentunya hanya mengandalkan lensa yang ada, sehingga tidak bisa berganti lensa lain, meski tersedia asesori lensa add-on/conversion lens.

Rekomendasi kami

Bila anda termasuk orang yang tidak ingin ribet memakai kamera DSLR beserta segala lensanya, mengapa tidak menjajal kamera prosumer super zoom saja? Simaklah delapan kamera  prosumer super zoom baru yang kami pilihkan untuk anda, dilengkapi dengan uraian singkat fiturnya beserta kekurangannya, disajikan urut sesuai abjad. Siapa tahu satu diantara kamera berikut ini cocok di hati anda.

Canon Powershot SX1 : urusan foto dan video sama baiknya

canon-sx1Keputusan tepat dari Canon dalam merevolusi S5 IS tampak dari dipakainya lensa super zoom 20x yang wide di 28mm pada Powershot SX1 dan juga memakai sensor baru CMOS 10 MP untuk kinerja burst yang lebih tinggi (4 fps dengan resolusi penuh). SX1 ini tetap melanjutkan spesifikasi S5 IS yang sudah baik seperti LCD yang bisa diputar (kini berukuran 2,8 inci widescreen), stereo movie recording, memakai teknologi USM untuk motor zoomnya (bukan motor fokus) dan flash hotshoe. Bahkan kemampuan movie SX1 amat mengagumkan dengan kemampuan full HD 1080i plus HDMI dengan kompresi efisien H.264 dan kemampuan zoom saat merekam video (berkat pemakaian USM motor yang tanpa suara), membuat SX1 jadi kamera dan camcorder yang sama baiknya.  Catatan : kami juga menyukai saudara kandung dari SX1 yaitu SX10 yang masih memakai sensor CCD dan tidak memiliki fitur HD movie.
Kekurangan dari SX1/SX10 sendiri adalah lensanya yang tidak secepat pendahulunya, dengan bukaan maksimal f/5.7 pada tele maksimum yang membatasi pilihan bukaan diafragma di saat memotret tele (dan kecenderungan mengalami efek difraksi lensa).

Casio Exilim FH20 : lebih cepat dari DSLR tercepat

casio-ex-fh20Bayangkan kecepatan burst kamera DSLR, betapa tingginya hingga ada yang mencapai 10 frame per detik. Bayangkan kalau ada kamera prosumer yang bisa melebihi kecepatan DSLR dengan 40 fps! Ini bukan mimpi, kamera Exilim FH-20 dengan sensor CMOS 9 MP mampu memotret hingga 40 fps pada resolusi 3072 x 2304 piksel, atau empat kali lebih cepat dari kemampuan burst DSLR yang sekitar 10 fps. Didukung lensa wide 26mm dengan 20x zoom dan kemampuan merekam video HD 30 fps (bahkan tersedia pilihan 1.000 fps untuk resolusi 224 x 56 piksel, lebih kecil dari resolusi video kamera ponsel), file RAW format, image stabilizer dan layar LCD 3 inci, membuat super zoom EX-FH20 ini jadi pesaing berat Canon SX1 di atas.
Kekurangan dari EX-FH20 adalah ketiadaan dudukan lampu kilat dan kualitas optik dari lensa Exilim yang belum sepadan dengan lensa kamera kelas prosumer lainnya.

Fuji FinePix S1500 : sederhana, murah namun lengkap

fuji-s1500Fuji memiliki banyak produk yang berlensa panjang, bahkan lensa kamera Fuji kali ini tergolong kurang panjang karena ‘hanya’ punya 12x zoom optik saja. Namun kami sengaja pilihkan Fuji S1500 ini dengan dua pertimbangan : fitur dan harga. Bagi sebagian orang, memiliki kamera dengan lensa 12x zoom itu sudah lebih dari cukup, dan lensa diatas itu hanya membuat harga jual kamera jadi semakin tinggi. Maka kamera 10 MP ini hadir untuk mereka yang mengerti arti kesederhanaan namun tetap menginginkan yang terbaik, katakanlah seperti kualitas optik lensa, bukaan maksimal lensa di f/2.8 pada posisi wide, fitur stabilizer dan desain serta ergonomi kamera yang nyaman. Sebagai info tambahan, Fuji ini memakai LCD berukuran 2,7 inci dan ditenagai oleh 4 baterai AA. Kesemua itu bisa didapat pada Fuji S1500 ini dengan harga dibawah tiga juta saja.
Kekurangan dari Fuji S1500 ini adalah ketiadaan dudukan lampu kilat, lensa kurang wide dan fitur movie yang cuma VGA saja (meski hebatnya dia mampu zoom optik saat merekam video).

Kodak Z1015IS : unggul di lensa Schneider dan HD movie

kodak-z1015lKodak tidak punya pilihan lain kecuali fokus di kelas prosumer, mengingat di kelas DSLR Kodak tidak punya produk apapun. Seperti biasanya, andalan Kodak adalah lensanya yang dipercayakan pada Schneider untuk kualitas terbaik. Kali ini Kodak hadir dengan Kodak Z1015IS, kembali memakai desain kamera yang lagi-lagi cukup aneh, dengan resolusi 10 MP, lensa 15x zoom (28-420mm) yang anehnya memakai bukaan diafragma f/3.5 pada posisi wide. Kamera berlayar LCD 3 inci ini sudah dilengkapi dengan fitur stabilizer optik,  RAW file format dan HD movie 30 fps.
Kekurangan kamera ini adalah desainnya yang aneh (anda boleh tidak sependapat), tanpa dudukan lampu kilat dan lensanya yang lambat dengan bukaan maksimal f/3.5 saja.

Lumix FZ28 : tetap bertahan memakai lensa 18x zoom

lumix-fz28Sukses Panasonic dalam merajai pasaran kamera prosumer dengan zoom 18x telah ditorehkan oleh Lumix FZ18. Kini penerusnya hadir dengan nama Lumix FZ28 yang memakai sensor CCD 10 MP, dan mengalami perubahan sedikit dalam rentang fokal (kini 27-486mm f/2.8-4.4) namun tetap bertahan di 18x zoom optik, serta memakai Venus 4 engine yang lebih bertenaga. Lumix sudah dikenal akan lensa Leicanya yang berkualitas, pengoperasiannya yang mudah (intelligent Auto), serta stabilizer OISnya yang paling efektif dibanding merk lain. Bagi yang suka file RAW akan merasa lega dengan kemampuan FZ28 merekam file RAW, serta tersedianya fitur HD movie 30fps yang jadi tren standar resolusi di masa depan. Kesemua fitur ini membuat Lumix FZ28 menjadi yang terbaik diantara kamera dengan zoom lensa sejenis.
Kekurangan Lumix secara umum adalah noisenya yang tampak lebih tinggi dari kamera lain (padahal artinya Lumix menjaga detail lebih baik daripada kamera lain). Khusus FZ28 ini, sayangnya tidak tersedia dudukan lampu kilat sehingga cukuplah mengandalkan lampu kilat built-in di kamera.

Nikon Coolpix P90 : makin ambisius dengan 24x zoom

niko-p90Kurang sukses dengan Coolpix P80, Nikon hadir kembali dengan penerusnya yaitu Coolpix P90 yang membuat kejutan dengan desain lensanya yang bermula dari 26mm dan berakhir di 624mm (atau 24x zoom optik). Tampak ambisius memang, terlebih Nikon kini mengusung sensor dengan resolusi 12 MP guna memenangkan persaingan. Kamera yang berdesain cantik ini punya tata letak tombol yang apik, layar LCD lipat dan sudah dilengkapi stabilizer pada sensornya.
Percayakah anda kalau kamera selengkap dan seambisius ini belum memiliki fitur HD movie? Banyak fans Nikon yang mengeluhkan hal ini, belum lagi ketiadaan fitur RAW file format dan absennya dudukan lampu kilat pada kamera ini membuat upgrade dari P80 ke P90 ini terasa kurang signifikan.

Pentax X70 : super zoom pertama dari Pentax

pentax-x70Persaingan panas diramaikan oleh pendatang baru di kelas super zoom, yaitu Pentax yang menjajal peruntungannya dengan meluncurkan Pentax X70. Kamera super zoom berlensa 24x zoom ini juga punya rentang yang persis sama seperti Nikon P90 yaitu 26-624mm, bahkan sama-sama memakai sensor 12 MP. Bedanya Pentax ini tidak memakai LCD lipat, dan sudah mendukung movie HD meski hanya 15 fps. Soal stabilizer, Pentax juga menerapkan sistem sesnsor shift seperti halnya Nikon P90.
Kamera ini belum mendukung RAW file format dan tidak ada dudukan lampu kilat, sungguh disayangkan mengingat Pentax sebagai pendatang baru semestinya sudah mempelajari kekurangan dari para pesaingnya.

Sony Cybershot DSC-HX1 : semakin mendekati kamera DSLR

sony-cybershot-hx1Tibalah kita di produk terakhir yaitu Sony DSC-HX1 yang mengusung sensor CMOS 9 MP. Dengan target menyaingi langsung Canon SX1 dan Casio FH20, Sony ini pun mengemas lensa Sony G dengan kemampuan zoom 20x. Kode G sendiri menunjukkan pemakaian 6 blade diafragma (hampir menyerupai lensa DSLR dengan 7 blade) untuk kualitas lensa yang lebih baik. Fitur lainnya adalah layar LCD lipat berukuran 3 inci, sweep panorama, steady shot (stabilizer optik), stereo HD movie 1440 x 1080 dan Bionz prosesor (milik DSLR Sony Alpha).

Sayang beribu sayang kalau kamera secanggih ini belum dilengkapi dengan dudukan lampu kilat eksternal dan tidak mendukung RAW file format, tapi begitulah kenyataannya.

Kesimpulan

tabel
Tidak ada kamera yang jadi pemenang di daftar ini, karena kali ini kami memang menyajikan pilihan dan andalah yang menentukan kamera mana yang cocok sesuai kebutuhan fotografi dan budget anda. Bila anda mencari kamera dengan lensa terpanjang saat ini, ada Olympus SP-590 dengan lensa super ekstrim 26x zoom optik, atau 26-676mm dengan resolusi 12 MP. Namun karena Olympus masih memakai memory card xD yang kuno dan lambat, kami tidak memasukkannya kedalam daftar rekomendasi kali ini.
Sebagai kesimpulan dalam tulisan ini, kami kelompokkan kamera-kamera diatas dalam katagori yang sama :
  • Ada tiga kamera yang sudah memakai sensor CMOS seperti Canon SX1, Casio FH20 dan Sony HX1, dengan asumsi sensor CMOS mampu memberi kinerja lebih baik di ISO tinggi dan kecepatan burst yang juga lebih baik. Tapi penggunaan sensor CMOS tentu membuat harga kamera jadi lebih tinggi (di kisaran 5 jutaan).
  • Ada dua kamera yang sangat ambisius dalam mendesain lensa dengan 24x zoom yaitu Nikon P90 dan Pentax X70, sementara sisanya bertahan di 20x, 18x, 15x bahkan hanya 12x saja. Hebatnya, keduanya bukan cuma sama-sama memakai lensa 24x zoom saja, tapi keduanya juga sanggup membuat lensa yang bermula dari 26mm (sementara pesaing umumnya 28mm).
  • Jangan terpaku pada resolusi kamera, karena sensor kecil pada kamera non DSLR sudah sangat cukup bahkan hanya dengan 5 MP sekalipun. Kami menganggap resolusi diatas 10 MP sudah melampaui batas fisika sensor sehingga sangat rentan noise di ISO tinggi. Jadi kalau perlu kamera resolusi di atas 10 MP, sebaiknya pertimbangkan saja DSLR. Disini Lumix FZ28, Nikon P90 dan Pentax X70 tampak begitu memaksakan diri dengan 12 MP, meski tidak banyak bedanya bila dibanding dengan 10 MP.
  • Kamera prosumer disebut berfitur lengkap jika memiliki fitur seperti manual mode, stabilizer, RAW file format dan dudukan lampu kilat eksternal. Kesemua kamera diatas telah dilengkapi dengan manual mode dan stabilizer, namun tidak semuanya memiliki RAW file format dan dudukan lampu kilat. Bila anda perlu kamera dengan RAW file format, cermati baik-baik spesifikasi teknis kamera yang akan anda beli. Bila anda ingin kamera dengan dudukan lampu kilat, tampaknya hanya Canon SX1 yang memilikinya.
  • Fitur HD movie sudah jadi tren di tahun 2009 ini. Juaranya HD movie di daftar kali ini adalah Canon SX1 dan Sony HX1 dengan audio stereo. Namun bila anda merasa tidak perlu kamera dengan HD movie, tersedia kamera yang hanya mampu merekam VGA movie seperti Fuji S1500 atau Nikon P90. Hati-hati karena ada juga kamera yang memaksakan HD movie tapi hanya sanggup 15 fps (semestinya minimal 24 fps) sehingga gambar video akan tampak patah-patah.

Selasa, 01 Desember 2009

CANON EOS 1000D




FEATURES

Superb Imaging Performance
10.1 megapixel APS-C size CMOS sensor
DIGIC III imaging processor for fine-detail, and natural color processing
Picture Styles optimized for the photographic subject and intention
Accurate white balance
Six preset WB and manual WB
Auto Lighting Optimizer – automatically set in Basic Zone modes and manually, via custom function in Creative Zone modes
Noise reduction for long exposures
Noise reduction for high ISO speeds
Complies to Design rule for Camera File System 2.0 and Exif 2.21 which support Adobe RGB

High speed & quick response
High precision 7-point autofocus (AF)
Flexible setting of ISO speed to adjust camera's sensitivity to light for best exposure (ISO 100 – 1600)
3 metering modes: Evaluative, Partial, Centre-weighted average
8 White Balance settings to fine-tune white balance as desired:
- Auto, Daylight, Shade, Cloudy, Tungsten light, Fluorescent light, Flash, Custom
Fast continuous shooting speed of 3 fps
Maximum shutter speed of up to 1/4000 sec. and X-sync speed of 1/200 sec.
Fast 0.1 sec. start-up time
Maximum burst of approx. 5 for RAW Type images
Type  
Type Digital, single-lens reflex, AF/AE camera with built-in flash
Recording media SD card, SDHC card
Image sensor size Approx. 22.2 x 14.8 mm
Compatible lenses Canon EF lenses (including EF-S lenses)
Lens focal length Equivalent to 1.6x the normal lens focal length
Lens mount Canon EF mount
Image Sensor  
Type High-sensitivity, high-resolution, single-plate CMOS sensor
Pixels Effective pixels: Approx. 10.10 megapixels
Total pixels: Approx. 10.50 megapixels
Image size 22.2 mm x 14.8 mm
Aspect ratio 2:3 (Vertical:Horizontal)
Colour filter system RGB primary colour filters
Low-pass filter Fixed position in front of the image sensor
Dust deletion feature (1) Self Cleaning Sensor Unit
(2) Dust Delete Data acquisition and appending
(3) Manual cleaning
Recording System  
Recording format Design rule for Camera File System 2.0 & Exif 2.21
Image type JPEG, RAW (12 bit, Canon original) RAW+JPEG
Simultaneous recording RAW and JPEG (Large/Fine) images are recorded simultaneously
File size (1) L (Large): Approx. 10.10 MB (3888 x 2592 pixels)
(2) M (Medium): Approx. 5.30 MB (2816 x 1880 pixels)
(3) S (Small): Approx. 2.50 MB (1936 x 1288 pixels)
(4) RAW: Approx. 10.10 MB (3888 x 2592 pixels)
File numbering Continuous numbering, auto reset, manual reset
Colour space sRGB, Adobe RGB
Picture Style Standard, Portrait, Landscape, Neutral, Faithful, Monochrome, User Def. 1 - 3
Automatic image brightness correction Automatically set in the Basic Zone modes. In the Creative Zone modes, settable with C.Fn-5 (Auto Lighting Optimizer)
Noise reduction (1) Long exposure noise reduction (C.Fn-3)
(2) High ISO speed noise reduction (C.Fn-4)
Original image verification data: Can be appended (C.Fn-12)
White Balance  
Settings Auto, daylight, shade, cloudy, tungsten light, white fluorescent light, flash, custom
Auto white balance Auto white balance with the image sensor
White balance correction (1) Blue/amber bias: ±9 levels
(2) Magenta/green bias: ±9 levels
White balance bracketing ±3 levels in single-level increments
Viewfinder  
Type Eye-level SLR (with pentamirror)
Coverage Approx. 95 percent vertically and horizontally
Magnification Approx. 0.81x (-1 diopter with 50 mm lens at infinity)
Eyepoint 21 mm
Dioptric adjustment range -3.0 - +1.0 diopter
Focusing Screen Fixed
Mirror Quick-return half mirror (transmittance:reflectance ratio of 40:60)
Viewfinder information (1) AF information (AF points, focus confirmation light)
(2) Exposure information (shutter speed, aperture, AE lock, ISO speed, exposure level, exposure warning)
(3) Flash information (flash ready, flash exposure compensation high-speed sync, FE lock, red-eye reduction light)
(4) Image information (Monochrome shooting, maximum burst, white balance correction, SD card information)
Depth-of-field Preview Enabled with depth-of-field preview button
Live View Shooting  
Type Electronic viewfinder with image sensor
Coverage Approx. 100% vertically and horizontally
Frame rate 30 fps (22fps in magnified mode)
Focusing (1) Manual focus
(2) Autofocus (Select from 2 AF modes: Quick mode and Live mode)
Metering Real-time evaluative metering with the image sensor
Exposure confirmation Real-time exposure simulation display
Depth-of-field preview Possible with depth-of-field preview button
Magnified view Magnify by 5x or 10x at the AF point position
Grid display Two vertical and two horizontal lattice lines displayable
On-screen information display Focus, exposure, flash, recorded image, drive mode, battery level
Possible shooting time Approx. 1.5 continuous hours
Shutter-release time lag (1) With SW-1 ON, time lag from SW-2 ON to the start of the exposure: 0.08 sec.
(2) With SW-1 and SW-2 pressed simultaneously, time lag until the start of the exposure: 0.14 sec.
Remote Live View shooting Enabled with EOS Utility
Autofocus  
Type TTL-CT-SIR AF-dedicated CMOS sensor
AF Points 7 AF points (Center AF point is cross-type sensitive to f/5.6 and larger apertures)
AF working range EV 0.5 - 18 (at 23°C/73°F and ISO 100)
AF-assist beam Intermittent firing of built-in flash
Focusing modes (1) Autofocus (One-Shot AF, Predictive AI Servo AF, AI Focus AF)
(2) Manual focus
AF Point Selection (1) Manual selection (2) Automatic selection
Selected AF point display Superimposed in viewfinder and indicated on the LCD monitor
AF-assist beam Intermittent firing of built-in flash
Effective range Approx. 4m/13.1ft. at center, approx. 3.5m/11.5ft. at periphery
Exposure Control  
Metering system TTL full-aperture metering with 35-zone SPC
(1) Evaluative metering (linkable to all AF points)
(2) Partial metering (approx. 10% of viewfinder at center)
(3) Center-weighted average metering
Metering Range EV 1 - 20 (at 23°C/73°F with EF50mm f/1.4 USM lens, ISO 100)
Exposure modes Program AE (shiftable), Shutter-priority AE, Aperture-priority AE, Depth- of-field AE (A-DEP, non shiftable), Full Auto (Program AE, non shiftable), Programmed Image Control modes (6 modes), Manual exposure (including bulb), E-TTL II Autoflash Program AE
Exposure beyond range warning Shutter speed or aperture reading blinks on the LCD monitor and in the viewfinder
ISO speed (Recommended Exposure Index) Automatically set, 100 - 1600 (in 1-stop increments)
Exposure compensation ±3 stops in 1/3-stop or 1/2-stop increments
AE lock (1) Auto AE lock (2) Manual AE lock (Enable in all metering modes)
Shutter  
Type Electronically-controlled, focal-plane shutter
Shutter Speeds 1/4000 to 30 sec. (1/3-stop increments), bulb, X-sync at 1/200 sec.
Shutter release Soft-touch electromagnetic release
Shutter-release time lag (1) During SW-1 ON, time lag between SW-2 ON and start of exposure: Approx. 0.09 sec.
(2) Time lag between simultaneous SW-1/SW-2 ON and start of exposure: Approx. 0.15 sec.
Camera shake warning Provided in Full Auto and Basic Zone modes
Built-in Flash  
Type Auto pop-up, retractable, built-in flash in the pentamirror
Guide No. Guide No. 13/43 (at ISO 100 in meters / feet)
Recycle time Approx. 3 sec.
Flash coverage Up to 17 mm focal length
Flash sync speed Max. X-sync speed 1/200 sec.
Autoflash system E-TTL II autoflash (Evaluative, Average), FE lock
Flash exposure compensation Up to ±2 stops in 1/3-stop or 1/2-stop increments
Flash-sync timing 1st-curtain and 2nd-curtain sync selectable
Colour temperature Equivalent to daylight
Red-eye reduction With red-eye reduction lamp
External Speedlite  
Sync contacts Accessory shoe: X-sync contact
Flash exposure compensation ±2 stops in 1/3-stop or 1/2-stop increments
External flash settings Flash function settings and Flash C.Fn settings possible with Speedlite 580EX II via camera menu
Drive System  
Drive modes Single, Continuous, Self-timer (10 sec delay), Self-timer (2 sec delay), Self-timer 10 sec. delay+continuous shooting (2 to 10 shots)
Continuous shooting speed JPEG: Max. approx. 3 shots/sec.
RAW: Max. approx. 1.5 shots/sec.
RAW + JPEG: Max. approx. 1.5 shots/sec.
LCD Monitor  
Type TFT colour liquid-crystal monitor
Screen size 2.5 in.
Pixels Approx.230,000
Coverage Approx. 100%
Brightness adjustment 7 levels provided
Viewing angle Approx. 170° vertically and horizontally
Image Playback  
Image display format Single image, Index display and Jump display
Highlight alert Provided (Overexposed highlights blink)
Rotated display Manual and Auto rotate
Video output Compatible with NTSC and PAL depending on the video OUT terminal
Image Protection and Erase  
Protect Erase protect (or cancel) each image individually
Erase Erase single image, erase selected images, erase images in a card, or erase only unprotected images
Direct Printing  
Compatible printers PictBridge-compatible printers
Printable images JPEG images compliant to Design rule for Camera File System
Digital Print Order Format  
DPOF Version 1.1 compatible
Direct Image Transfer  
Compatible images JPEG and RAW images
* Only JPEG images can be transferred as wallpaper on the personal computer screen
Customization  
Custom Functions 12 Custom Functions with 32 settings settable with the camera
My Menu registration Up to six top-tier menu options and Custom Function settings can be registered
Customization  
Digital terminal Hi-speed USB, mini B port
Video OUT terminal NTSC/PAL selectable
Remote control terminal Compatible with Remote Switch RS-60E3
Power Source  
Battery Battery Pack LP-E5 x 1
Battery life At 23°C / 73°F, normal shooting: Approx. 600 shots
At 0°C / 32°F, normal shooting: Approx. 500 shots
At 23°C / 73°F, Live View shooting: Approx. 200 shots
At 0°C / 32°F, Live View shooting: Approx. 190 shots
* The figures above are based on CIPA (Camera & Imaging Products Association) testing standards
Battery check Automatic (Displayed in 4 levels)
Power saving Select [Auto power off] after 30 sec., 1, 2, 4, 8 or 15 min., or off
Date/time battery Built-in secondary battery
Startup time Approx. 0.1 sec. Based on CIPA (Camera & Imaging Products Association) testing standards
Dimensions and Weight  
Dimensions (W x H x D) 126.1 x 97.5 x 61.9 mm / 4.96 x 3.8 x 2.4 in.
Weight 450 g / 15.9 oz. (Body only)
Operation Environment  
Operating temperature range 0 - 40° / 32 - 104°F
Operating humidity range 85% or less